+6285801304029  
Inovasi Kerajinan Bonggol Jagung Karya Mahasiswa UNY

Inovasi Kerajinan Bonggol Jagung Karya Mahasiswa UNY

Tongkol pada jagung adalah bagian dalam organ betina tempat bulir duduk menempel. Istilah ini juga digunakan untuk menyebut seluruh bagian jagung betina. Tongkol terbungkus oleh kelobot. Secara morfologi, tongkol jagung merupakan tangkai utama malai yang termodifikasi. Malai sendiri adalah organ jantan pada jagung yang dapat memunculkan bulir pada kondisi tertentu.

Hal ini disampaikan oleh mahasiswa UNY, Ade Kurniawan, dalam pelatihan pemanfaatan bonggol jagung kepada warga Dusun Jetis, Bligo, Ngluwar, Magelang, pada Sabtu (23/12).

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Seni Kriya Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya UNY tersebut menjelaskan bahwa bonggol jagung dapat dimanfaatkan untuk menambah penghasilan dengan diolah menjadi berbagai karya seperti sandal, kotak tisu, kap lampu, hingga hiasan dinding.

“Kami mendirikan CIP Janggel untuk mengolah sampah tanpa meninggalkan limbah,” tutur Ade, dikutip dari laman UNY, Selasa (2/1/2023).

Cara pemanfaatan bonggol jagung diawali dengan proses pengeringan selama tiga hari agar benar-benar kering. Setelah itu, bonggol diamplas menggunakan mesin khusus agar layak dijadikan bahan produksi. Bonggol yang telah dihaluskan kemudian dipotong sesuai ukuran dan dirakit menjadi karya. Setelah melalui proses penghalusan dan finishing, karya berbasis bonggol jagung siap dipasarkan. Ade menegaskan bahwa proses produksi ini tidak menyisakan limbah, karena serbuk hasil pengamplasan dapat dijual sebagai campuran pakan ternak.

“Benar-benar tidak meninggalkan sisa, bahkan sampahnya pun masih dapat menghasilkan uang,” ujar Ade.

Pelatihan pemanfaatan bonggol jagung ini dilaksanakan oleh mahasiswa KKN MBKM UNY di Dusun Jetis. Anggota tim KKN tersebut adalah Asri Nur Anissa, Cahyaning Mulat Ayu Eriyanti, Frisca Kirana Maharani Indira, Khafidz Akmal Assidqi, Fitra Assyifa Azra, Aulia Nur Alima, Irfan Nur Cholis, Taufiq, Asnan Ahmad Sabri, dan Sasmita Anggun Pawestri. Ketua KKN MBKM UNY, Khafidz Akmal Assidqi, menyatakan bahwa pelatihan ini diadakan karena di dusun tersebut banyak ditemukan limbah bonggol jagung yang selama ini hanya dibakar atau dibuang begitu saja setelah jagungnya diambil.

“Oleh karena itu, kami mengundang dua narasumber untuk mengolah limbah bonggol jagung menjadi sesuatu yang bermanfaat,” kata Khafidz.

Salah satu anggota tim, Taufiq, menjelaskan bahwa limbah bonggol jagung juga dapat diolah menjadi briket, yaitu bahan bakar sejenis arang yang berguna sebagai sumber energi alternatif pengganti bahan bakar minyak.

“Kelebihan briket ini antara lain merupakan energi terbarukan, dapat mengurangi sampah, lebih murah, dan ramah lingkungan,” papar mahasiswa Prodi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi FIKK UNY tersebut.

Cara membuat briket diawali dengan membakar bonggol jagung hingga menjadi abu. Selanjutnya, abu tersebut dicampur dengan tepung kanji yang telah dicairkan, dengan perbandingan dua bagian abu bonggol jagung dan satu bagian tepung kanji. Setelah adonan tercampur rata, adonan dicetak menggunakan pralon dan briket siap digunakan.

Silahkan chat jika ada pertanyaan Admin akan membalas dalam beberapa menit
Halo, Ada yang bisa kami bantu?
Mulai chat...